Cari Blog Ini

Memuat...

PUISI UNTUK NEGRI


PERADABAN COMPANG CAMPING

Peradaban compang camping ini
Telah rindu lahirnya peradaban baru
Peradaban penuh darah dan terorisme ini
Telah muak dengan bom dan senjata nuklir
Peradaban penuh eksploitasi dan dominasi ini
Telah muak dengan kebohongan dan kemunafikan
Peradaban yang kaya dengan koruptor dan maling ini
Telah enggan bicara  kejujuran dan transparansi
Peradaban yang lahir dari buramnya sejarah ini
Telah penat oleh tipuan dan manipulasi
Peradaban yang lahir dari kotornya tangan penguasa ini
Tinggal menunggu kehancuran yang menyeluruh



Malang, Mei 2005

                   TANAMAN JIWA

Padi dan jagung begitu mudah
Ditanam dan tumbuh subur di negri ini
Curahan Rahmat dari Tuhan nan kaya
Namun tanaman akhlaq dan budi pekerti
Tak pernah mau tumbuh dan berbuah
Hati begitu gersang untuk tanaman akhlaq
Nurni begitu tumpul untuk fahami kebajikan
Mata hanya terpesona oleh gemerlap kemewahan dunia
Telinga hanya terpesona
Oleh genderang taburan syahwat
Kebajikan selalu jadi bahan ejekan
Pembelaan terhadap kebenaran
Selalu menjadi bahan penindasan
Agama selalu menjadi
Sesuatu yang dikorbankan
                                                                                               
                                                                                 
 Malang, pebruari 2002





PENGHIANAT

Negeri ini indah
Namun banyak menyimpan pengkhianatan
Pengkhianatan demi pengkhianatan
Terkubur dalam derita dan air mata rakyatnya
Bumi yang telah penat menampung
Tubuh dan darah orang-orang terbaiknya
Hingga mawar merah nan harum tak ditemui lagi
Kecuali di pinggir-pinggir pantai dan hutan
Dalam kepapaan semesta
Atau terkunci rapat dalam rumah-rumah Tuhan
Membasuh hati yang terlanjur berdebu
Akibat bau busuk yang menyebar
pada seluruh lingkungan
Karena tahu
Dirinya kan kalah dan merana

Malang, 2001



TANGIS SEBUAH NEGRI

Tuhan !
Negri apakah ini
Kebusukan dan kedzaliman selalu menang di atas
Kemiskinan dan penderitaan jadi santapan sehari-hari
Mengisi cawan dengan nafsu-nafsu yang segar
Mengusir burung-burung syurga
Penduduk negeri cahaya
Tak dapat berbuat apapun
Karena semua telah terlanjur berlumpur
Kecuali uluran tangan emas kekasih
Dengan malaikat bershof-shof
Memenuhi panggilan pilu penduduk negeri yang rindu
Cahaya di atas cahaya


Malang 2001 


BANGSA YANG DITOLONG

Gunung meletus tumpahkan lahar menyala
Tanah longsor tumbangkan rumah dan pepohonan
Sungai banjir lahirkan bencana
Udara cemar kumuhkan kota
Anak-anak kaum pengungsi beribu,berjuta
Tiada terurus dijalan-jalan,dilorong-lorong dan dipenampungan
Anak-anak jalanan jadi hiasan kota-kota besar
Pengemis, pengamen, gelandangan gentayangan dipasar-pasar,
Dirumah-rumah, dan dikota-kota
Perampokan dan penodongan jadi berita sehari-hari
Kecabulan dan pemerkosaan jadi hiasan majalah-majalah
Ancaman dan kerusuhan jadi solusi dan pemecah masalah
Perang dan huru-hara cara mengemukakan pendapat
Wahai bangsa pujaan para penyair
Dimanakah perahu Nuh berada
Yang kan selamatkan bibit-bibit unggul
Agar wajah bangsa punya warna indah
Perahu takkan sanggup
Selamatkan bangsa yang terlanjur poranda
Jika Tuhan enggan menyapa
Maka malaikatpun enggan menolong
Berdoalah bukan hanya seorang
Sepuluh atau sejuta Ulama
Namun seluruh bangsa merintih
Berdoa dan memohon 
sambil
Mengagungkan Tuhan dalam setiap sisi kehidupan
Semoga Ia kan turun dengan
Bershof-shof malaikat pembawa rahmat


                                                           Malang, 17 Agustus 2001

VAMPIR


Sebuah negeri berbau busuk
Darah berceceran di segala pelosok
Pejabat menjelma menjadi vampir
Rakyat kurus kering kehabisan darah
Vampir-vampir bergentayangan siang dan malam
Menghisap darah rakyat yang telah pucat
Menabur bara-bara api kecemburuan
Emas berlimpah di sekitar vampir
Walau perusahaan koyak dan terpuruk
Vampir menghisap tanpa dosa
Kapan kan datang?
Pahlawan yang bukan dari dunia vampir
Yang kalbunya terisi cahaya Ilahi
Menjadi bunga bagi alam semesta
Menebar aroma penuh cinta
Menjadi singa-singa jantan
Penghancur angkara murka
Ataukah negeri ini telah tak mampu lahirkan
Pahlawan dari dunia ruh
Karena kebusukan telah merajalela
Hingga tak seorangpun lahir dari dunia ruh

Malang, Januari 2000

BANGSA


Negeri yang telah poranda ini

Takkan dapat bangkit kembali

Kecuali danau kasih sayang Tuhan
Mengairi pucuk-pucuk pepohonan
        Meneteskan anggur-anggur kasih sayang
        Dari cawan cinta dunia ghaib
        Ke dalam dada-dada penduduk negeri
        Yang lahirkan kearifan pemersatu bangsa
Ikatlah bangsa ini atas nama cinta-Mu
Taburkan wewangian rahmat-Mu
Agar bunga lili dapat bernyanyi
Tentang kedamaian dan  keindahan
Di hadapan kesempurnaan-Mu
Tiada sesuatu yang mustahil
Harum bunga sedap malam
Membungkus kepiawaian iblis

Malang, 2001

KEKASIH BANGSA-BANGSA



Kau kekasih bangsa-bangsa
Bila Kau pilih bangsa kami
Jadi kekasih utama-Mu
Dengan sanggul melati suci tanda aqad dari-Mu
         Bila pintu ampunan terbuka
        Siap di atas busur kemuliaan
        Memanah singgasana-singgasana arogan
        Mengusir utusan-utusan naga azazil
Negeri ini telah menjadi gudang hadiah dari-Mu
Menyimpan lumbung permata zamrud
Melahirkan mawar-mawar pribadi indah
Yang tersimpan dalam ranjang-ranjang bawah tanah
        Namun, segala wewangian Ilahi tak dapat simpati
        Raja-raja zhalim  nyaman di atas tahta
        Undang-undang rakyat lahir bukan dari khazanah-Mu
        Seni dan budaya lahir bukan dari keindahan-Mu
Negeri-negeri diikat bukan atas nama-Mu
Pencuri-pencuri diusung bagai pahlawan
Mutiara-mutiara ditendang keluar arena
Para penghianat berpesta pora dengan hadiah dari-Mu
        Kau Kekasih bangsa-bangsa
Lahirkanlah mawar-mawar baru
        Yang hatinya bersinar karena cinta-Mu
        Yang membangun negeri dengan tetesan anggur-Mu
Kau Kekasih bangsa-bangsa
Jadikan negeri ini persemaian cinta-Mu
Agar burung-burung syurga datang
Menyunting bunga kemenangan

Malang, 31 Juli 2001



BANGSA KASIHAN
Kasihan bangsa yang mencelup dirinya
Dalam warna budaya asing
Sedang warna aslinya indah menawan
Bagai purnama dalam untaian bangsa-bangsa
        Wajah-wajah kehilangan warna aslinya
        Terpuruk dalam kubangan lumpur
        Setiap diri ingin jadi pemangsa
        Karena hukum selalu jadi permainan
Dunia dipinang habis-habisan
Nafsu direguk hinggga tuntas
Menari di atas mayat-mayat pucat pasi
Berkhutbah di atas kebodohan dan penderitaan
        Hidup mengandalkan uluran tangan
        Monster asing yang siap mencaplok
        Setiap jengkal tanah berbau emas
        Untuk diusung ke negeri monster

Malang, 24 Juli 2001


















Tidak ada komentar: